Sabtu, 10 Oktober 2015

Sepotong Cinta dalam Diam
Karya Asma Nadia dalam kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa


Jakarta, tahun pertama

Perempuan,

Kau pasti tahu sakitnya cinta yang tak terkatakan. Cinta yang hanya mampu didekap dalam bungkam.

Kata orang bahkan diam berbicara. Tapi menurutku, hal itu tidak berlaku dalam cinta. Sebab cinta harus diekspresikan dan pantang dibawa diam. Sebab cinta harusnya dinyatakan, lalu dibuktikan dengan sikap. Begitu seharusnya cinta.

Tapi aku memang tidak punya pilihan.

Maafkan!


SEBUAH bingkisan dan sepucuk surat tergeletak di bibir ranjang. Dee memandangnya dengan keingintahuan yang besar. Matanya yang memiliki kelopak indah terbuka lebar. Sementara mulutnya sejak tadi menimbulkan suara gumaman tak jelas. Kedua bola mata gadis itu tak beranjak juga dari bingkisan dan sepucuk surat yang ditempel menyatu dengannya.

Paket kesasar, kalau boleh disebut Dee demikian, diterimanya pagi ini dari tukang pos, lelaki tua yang mengayuh sepeda dengan susah payah. Dee tidak mengerti mengapa lelaki itu masih bersikeras mengantar surat hanya dengan sepeda, sementara tukang pos yang lain telah lama meninggalkan kendaraan antik itu, beralih ke sepeda motor.

“Buat siapa, Pak?”

Tukang pos itu tak menjawab. Hanya memintaku menerima paket kesasar itu.

“Kok nggak ada namanya, Pak? Yakin buat di sini?”

Kali ini Pak Pos menggerakkan telunjuknya pada alamat lengkap yang tertulis di bagian atas amplop yang menempel pada sebuah paket.

Jl. Kebon Kosong Gg. I no 10 A.
Kemayoran, Jakarta Pusat

Dee tersenyum. Kagum dengan konsistensi Pak Pos tua di depannya. Sejak dulu lelaki itu tak pernah banyak bicara. Pekerjaannya sendiri memang hanya mengantarkan surat. Jadi sama sekali bukan kesalahan jika Pak Tua itu melakukannya dengan sedikit bicara atau sekedar menyodorkan amplop. Lagipula tidak akan ada yang memberinya bonus lebih seandainya ia bersikap ramah dan sedikit berbasa-basi.

Dee tidak menyalahkan si tukang pos yang tanpa ragu menyodorkan sebuah bingkisan dengan sepucuk surat menempel di atasnya ke rumah Dee. Sebab alamatnya memang tertera jelas.

Masih dengan segudang rasa penasaran Dee membawa langkahnya masuk ke dalam rumah sambil menenteng paket dari Pak Pos barusan. Lalu gadis berusia duapuluh tiga tahun itu menjatuhkan paket di tangannya ke sofa, tempat tiga gadis lainnya sedang asyik menonton tivi.

Paket meluncur dan jatuh tepat di tengah-tengah sofa. Tiga gadis kaget, melupakan tontonan seru Oprah Winfrey’s Show dan berebut lebih dulu mengambil paket yang jatuh. Andra yang pertama berhasil merebut paket yang jatuh dekat pangkuan Ita. Hiruk-pikuk segera terjadi.

Ita berusaha merebut paket yang jatuh di pangkuannya sebab mengira itu memang ditujukan Dee untuknya. Sementara Anik tidak mau tinggal diam, ikut bertarung. Adegan a la anak kecil itu berlangsung cukup seru, setidaknya di mata Dee. Sayang semua menjadi antiklimaks ketika Andra, Ita, dan Anik tak menemukan nama yang dituju sang pengirim. Amplop yang menempel pada bingkisan itu kosong. Hanya ada sebuah alamat yang ditulis tangan.

Ketiganya lalu mengalihkan pandangan pada Dee yang barusan menjatuhkan badan ke sofa.

“Dee, paket siapa, nih?”

“Kok nggak ada nama pengirimnya?”

“Boro-boro pengirim. Nama yang dituju aja nggak ada!”

Dee tersenyum, menegakkan duduknya. Kepala gadis itu dicondongkan ke depan, hingga berhadapan cukup dekat dengan wajah ketiga temannya.

“Aneh kan?”

Andra, Ita, dan Anik mengangguk.

“Memang aneh!”

Dee menjatuhkan badannya lagi, tertawa geli sendiri.

“Tidak lucu!” Andra serta-merta menukas.

Anik yang tampak berpikir keras menambahi, “Pengirimnya pasti memang ingin membuat bingung kita!”

Ita lain lagi pendapatnya, gadis berkulit hitam manis itu merebut bingkisan di tangan Anik, lalu mendekatkannya ke telinga, sebelum mengembuskan nafas lega. Ia tak mendengar suara detak jam dari dalam bingkisan.

“Aman!”

Kesunyian berlangsung. Tidak terlalu lama sebab Dee yang cerewet dan punya banyak ide langsung mengajukan usul.

“Kita buka saja!”

Tiga gadis sebaya di depannya berpandangan, lalu menggelengkan kepala.

“Kita nggak bisa membuka paket yang bukan untuk kita, Dee. Itu namanya lancang dan tidak amanah!”

Dee diam lagi. Tapi tidak berapa lama mata bulatnya bersinar lagi.

“Kalau begitu kita buka, terus kita bungkus lagi, gimana? Siapa tahu penjelasannya ada di dalam bingkisan ini?”

Andra cepat membantah, “Itu juga nggak boleh Dee. Kita nggak boleh membuka bingkisan ini, kecuali memang yakin milik kita. Siap tahu paket ini nyasar ke alamat sebelah. Mungkin saja kan pengirimnya salah menulis alamat.

Ya, memang mungkin.

Dee mengerutkan kening, bibirnya bergumam tak jelas, khas gadis itu jika sedang berpikir keras.

“Jadi gimana dong?”

Kali ini Ita yang paling tua di antara mereka angkat bicara,

“Kita biarkan dulu tiga hari. Lihat-lihat, siapa tahu Pak Pos kembali dan mengatakan paket ini salah alamat. Simpan saja sementara ini. Ok?”

Dee yang rasa penasarannya sudah melewati ubun-ubun sebetulnya ingin menolak, tapi tak berdaya. Sebab tiga rekannya yang lain sepakat dengan ide Ita. Maka beramai-ramai mereka menaruh paket misterius itu ke atas lemari. Lalu memandanginya lama.

***

Jakarta, tahun ketiga

Perempuan,

Hari-hariku adalah penantian. Perasaan gelisah yang kupikir tidak mungkin ada kini menjadi rutinitas yang harus kuhadapi.

Dulu, aku memang menghindar dari perasaan itu. Jatuh cinta, untuk apa? Aku orang miskin yang harus menyelesaikan sekolah dan seabreg tanggung jawab, sebab Emak, salah satu perempuan yang kuhormati, telah lama ditinggal mati ayah.

Aku tumbuh menjadi lelaki. Sendiri.

Hidupku bagiku merupakan perjuangan keras tanpa batas. Tak jarang aku merasa seperti kapal kecil yang berjalan tanpa rasi bintang. Terapung-apung, sesekali membentur karang, dan harus berbalik arah.

Namun, melihatmu pertama kali di masjid sore itu.
Hatiku begitu saja bicara:
Kau adalah perempuanku. Takdirku!

Untuk pertama kali hidup tak sekadar mengalir.
Sebab kini aku punya cita-cita.

HARI KETIGA, Dee mengangkat paket itu dari atas lemari, lalu menimang-nimangnya. Hatinya menebak-nebak isi bungkusan di tangannya.

Tidak terlalu berat. Tidak sampai satu kilo. Dee tahu pasti sebab barusan ia menaruh bingkisan itu di timbangan. Rasa ingin tahu mendera dara bertubuh jangkung itu. Seharusnya teman-temannya menyetujui usul Dee untuk mencoba menemukan jawaban di dalamnya. Siapa tahu ada label nama pada isi bingkisan itu. Siapa tahu?

Dee menimang-nimangnya lagi, lalu hati-hati meletakkan bingkisan itu di pinggir ranjang. Matanya menyusuri huruf demi huruf tulisan tangan di amplop. Tulisan itu tegas, tegak lurus, dan jelas. Mengingatkan Dee akan tulisan guru-guru bahasa Indonesianya waktu SMA dulu. Tulisan orang zaman dulu, begitu teman-temannya sekelas biasa bercanda.

Pasti penulisnya seorang yang serius, pikir Dee lagi. Tulisan di atas amplop memang jauh dari modern. Begitupun pilihan amplop. Terkesan oldies. Meski begitu entah mengapa itu menyiratkan sesuatu yang dalam.

Dee melihat lebih dekat amplop berwarna biru itu. Tampak guratan-guratan bekas lipitan, juga warna biru yang agak pudar. Seolah surat itu telah menempuh jarak bertahun-tahun sebelum tiba di rumah ini.

Dee tahu, ia tak bisa lagi menunggu.

Tangan gadis itu menyobek pinggiran kertas coklat dan meraih sebuah amplop yang meluncur dari dalamnya. Namun baru sedikit ia membaca, terdengar langkah mendekati kamar. Ketika Dee mengangkat wajah, Andra, Ita, dan Anik menatapnya dengan tangan terlipat di dada, berdiri gagah di pintu. Terlambat, Dee tak sempat menyembunyikan surat yang sedang dibacanya. Tak ada kesempatan lagi. Ita langsung merebut dan mengembalikan surat yang juga tampak lusuh dan penuh lipitan dan menaruhnya di atas bingkisan.

“Curang!”

Anik mengecam Dee. Tidak hanya itu, Andra dan Ita menekuk muka mereka. Kegusaran tergambar jelas, bahkan di dekik pipi Andra yang biasa terlihat ramah.

“Kamu tidak amanah, Dee!”

Duh, kata ajaib itu lagi.

Dee memandang ketiga teman satu kosnya dengan paras merah, seperti maling jemuran yang kepergok. Malu dan tak enak hati.

“Maafkan aku.”

Suasana kaku muncul. Dee tak sanggup berkata apa-apa lagi. Percuma berpanjang-panjang membela diri, toh ia memang bersalah.

Empat orang gadis di dalam kamar termangu.

Bingkisan coklat dan amplop berisi surat tergeletak telentang. Beberapa amplop lagi barusan meluncur dari dalam bingkisan yang sobek. Dee memandangnya dengan perasaan ingin tahu yang lebih besar. Lelaki dan perempuan tanpa nama, kini memetakan sederet tanda tanya di kepalanya.

“Maafkan aku,” Dee memecah keheningan, “tapi tidak mungkin berharap kemajuan hanya dengan menunggu. Sudah tiga hari lebih.”

Dee mulai mendapatkan dukungan. Anik tampak bereaksi. Gadis bertubuh mungil itu manggut-manggut beberapa kali. Sementara Ita dan Andra tampak gelisah. Dee tertawa dalam hati, ia kenal kedua sahabatnya itu. Mereka pasti diam-diam sama penasarannya dengan dirinya. Surat-surat di dalam amplop yang ditulis dengan tinta berbeda itu mustahil dilewatkan begitu saja.

“Surat itu indah, kalian harus membacanya.” Dee kembali memancing.

Andra bangkit, berjalan mondar-mandir. Ita melirik surat yang bagian pinggirnya sudah disobek. Dee sungguh menyebalkan!

Andra menarik nafas panjang. Lucu memang. Bingkisan itu bukan milik mereka. Aneh, bagaimana rasa penasaran mereka terus berkembang seperti balon gas yang diisi udara.

“Masalahnya, kita nggak berhak, Dee. Aku bukannya nggak penasaran. Surat ini, kalau benar indah seperti katamu, hanya milik satu orang. Membacanya lebih dulu akan mengurangi rasa hormat kita terhadap pemilik dan pembuatnya.”

Gagal lagi.

Dee memejamkan matanya. Terbayang sosok lelaki tanpa nama yang menanti di dekat jendela, berharap balasan atas surat yang dikirim. Terlukis seorang perempuan tanpa nama, bertopang dagu, mendekap rindu.

Dee tak sabar!

Tapi ia tak bisa bergerak. Andra, Ita, dan Anik menatapnya dengan mata menukik.

Sebuah bingkisan berwarna coklat dan beberapa pucuk surat. Dee menatapnya tak berkedip.

***

Jakarta, tahun kedelapan

Siapa yang bisa memilih cinta, siapa yang bisa memutuskan kapan cinta harus hadir dan kepada siapa cinta harus tumbuh? Tak ada!

Sebab cinta adalah anugrah. Rahasia-Nya yang unik dan barangkali tak selalu bisa dijelaskan.

Aku mencintaimu, perempuan. Tanpa keraguan. Dan, dengan keyakinan penuh, aku menjatuhkan pilihan.

Dan aku bukan lelaki yang gampang menentukan pilihan atau mengubah pilihan yang telah dibuat. Aku adalah lelaki yang memilih dan sekaligus menerima risiko atas pilihan yang kubuat. Tak ada kata mundur.

Mereka bilang mustahil. Barangkali ada benarnya.

Tapi bukankah Tuhan adalah tempat bagi semua kemustahilan? Itulah kenapa, dalam iman yang tak seberapa selama delapan tahun ini, telah kusandarkan jawaban doa pada-Nya. Cita-cita untuk bisa menjadi tua bersamamu.

Adapun penantian panjang yang kulalui biarlah menjadi bagian sejarah betapapun sakit dan membuatku tersiksa. Memandangmu dalam realita memang perih. Luka di atas luka tersiram cuka.

Untunglah,
Pada malam-malam, engkau milikku.
Meski dalam mimpi yang kata orang semu.

DEE termangu. Andra dan Ita menahan nafas, sementara Anik mengusap airmata.

Tidak penting lagi diceritakan bagaimana akhirnya mereka berempat bisa mendapatkan kata sepakat untuk sama-sama membaca surat itu. Jeleknya lagi dalam alunan ‘Knife’, lagu 80-an yang memerihkan hati.

“Aku penasaran,” Dee tiba-tiba angkat bicara, “sebetulnya apa sih yang terjadi? Kenapa mereka tidak bisa bersatu?” ujar Dee lagi dengan pertanyaan yang sedikit norak dan rada-rada sinetron, tapi sepertinya yang lain tak melihat itu. Mungkin disergap haru.

“Mungkin perempuan itu tidak mencintai dia, Dee,” Ita menjawab.

“Terus?”

“Tapi lelaki itu sudah memilih dan dia terus menunggu sampai si perempuan, suatu hari, mencintainya.”

Anik menggelengkan kepala,

“Mungkin lelaki itu mencintai perempuan yang sudah menikah, makanya jadi mustahil.”

Bodoh! Desis Dee dalam hati. Mengapa membiarkan cinta yang begitu menguras kesedihan tumbuh begitu dalam? Dipertahankan lagi! Tapi cinta memang tak bisa memilih. Dan ternyata itu bukan sekadar judul sinetron atau kalimat-kalimat klise yang bisa ditemukan di buku-buku picisan.

“Aku nggak ngerti, kenapa surat-surat itu tidak pernah diposkan sebelumnya? Begitu banyak berlembar-lembar.”

“Lihat nih,” Andra yang sejak tadi tak banyak bersuara, akhirnya buka mulut, “di surat ini ditulis bahwa sebagian surat yang lain telah rusak dan tak bisa lagi dibaca karena tertelan banjir.”

Lucu juga. Tapi Dee merasa keterlaluan kalau sampai tertawa. Biar bagaimanapun banjir kan tragedi.

Mereka berempat seperti lupa waktu. Sejak tadi masing-masing memilah-milah surat dan membaca sendiri-sendiri. Ada seuatu pada kalimat-kalimat si lelaki yang membuat keempat mahasiswi itu terhipnotis untuk terus mengikuti kisah si lelaki dan perempuan yang sampai sekarang masih tanpa nama.

***

Jakarta, tahun kesebelas

Aku melihatmu hari ini. Indah seperti biasa. Kau mengenakan baju rok n blus bermotif pink dan biru. Dua warna yang menjadi favoritmu.

Sebelas tahun berlalu, perempuan. Kau tetap satu-satunya perempuan yang membuatku sabar dan rajin berdoa.

Waktu memang telah berlalu sangat cepat tanpa bisa dicegah. Harus kuakui itu sama sekali tidak mengurangi keindahan perempuanku. Satu wajah daun sirih yang hitam manis, tawa cerahmu, dan sorot mata keibuan.

Ketika di tempat-tempat lain ketulusan telah menguap dan sulit ditemukan, aku pun datang kepadamu. Sebab pada wajah sederhana namun indah milikmu, kunikmati ketulusan melimpah.

Maka dalam diam harapan kujahit. Suatu hari aku akan di sisimu, saat matahari terbit.

Anik kembali menghapus airmatanya. Andra tampak masih serius dengan sebuah surat di tangannya. Mata sipit memanjang gadis itu menyusuri kalimat demi kalimat. Di sampingnya Ita mengikuti.

***

Jakarta, tahun kelimabelas

Perempuan,

Semoga kau bisa melihat perubahan yang telah kubuat dalam hidup.

Beberapa cerpen telah kutulis, sebagian ada yang telah dibukukan. Terima kasih telah menjadi sumber abadi inspirasiku. Semoga kau tidak keberatan. Selalu kutulis inisial namamu di setiap tulisan. Dengan cara itu aku berusaha terus bersamamu, menjaga cita-cita. Juga kesetiaan.

Aku tidak menyalahkan jika tak ada yang percaya bagaimana aku sebagai lelaki yang memiliki kebutuhan bisa tetap sendiri dan tidak tergoda macam-macam.

Kesalahan mereka adalah mengira aku sendiri. Mereka tidak memahami wajahmu yang menyapaku setiap pagi di komputerku. Mereka tidak melihat fotomu yang terselip di dompetku, meski lusuh dan berukuran sangat kecil (Maafkan aku mengambilnya tanpa meminta. Tapi foto itu telah memberiku banyak energi). Mereka juga tidak tahu sosokmu yang terlukis di dalam hati dan tak pernah pudar, meski belasan tahun berlalu.

Dari jauh kulihat engkau bahagia dengan kehitupanmu. Itu membuatku senang, meski di satu sisi menorehkan luka.

Bukankah cinta harus bahagia atas kebahagiaan yang dicintai, dan tidak membiarkan dirusak ego semata?

Perempuanku,

Kau tidak tahu betapa sulitnya untuk tetap dalam ketulusan. Untuk tidak mengirimkan surat-surat ini padamu sampai waktunya tiba. Untuk menyimpan cinta dalam diam. Dan melewati hari dengan hati teriris-iris oleh rindu, cinta, cemburu.

Pernah aku menangis dan ingin menyerah atas cinta yang Dia pilihkan untukku. Tapi perempuanku juga keajaiban yang dikirimkan Tuhan. Untuk anugrah sebesaritu aku hanya perlu bersabar

Dee meletakkan surat yang membuat dadanya sesak. Berfikir, perempuan itu sungguh beruntung karena mendapatkan cinta begitu besar.

“Bingkisan itu isinya kira-kira apa ya? Gimana kalau kita buka juga?”

Kalimat sekonyong-konyong Dee membuat mata Andra, Ita, dan Anik melotot. Di dalam kertas coklat itu memang terdapat sebuah bungkusan lain yang terbalut kertas koran.

“Baca surat aja udah salah, Dee! Masa kita mau buka bingkisan itu juga.”

“Aku penasaran.”

“Lalu penasaran itu memberimu hak untuk melanggar privacy orang?”

Dee kena batunya. Andra tersenyum puas. Ita dan Anik kembali asyik membaca surat-surat. Belum ada kemajuan. Mereka tak menemukan nama atau petunjuk lain yang lebih spesifik. Padahal setelah membaca surat-surat itu keinginan keempat gadis itu menjadi lebih besar untuk menyampaikan bingkisan dan surat-surat tersebut kepada yang berhak.

Dee memilih sebuah surat, lalu memutuskan membacanya keras-keras.

“Ini surat terbaru dan terpanjang…”

Dee mulai membaca dengan perlahan.

***

Jakarta, tahun kedelapanbelas

Cinta,

Aku harap surat ini sampai padamu. Sekaligus kukirimkan surat-surat sebelumnya yang tak pernah kukirim.

Hanya dua alasan yang membuatku mengirimkan surat ini, beserta sebuah bingkisan yang telah kusiapkan sejak delapan tahun lalu dan selalu kusimpan dengan baik.

Sejak pertama aku mengenalmu, telah kutekadkan untuk menyerahkan semua ungkapan perasaan dan bukti kesungguhanku padamu, jika masanya tiba. Jika Allah memberi pertanda dan membuang satu kemustahilan sehingga aku bisa bersamamu. Kedua, jika aku merasa waktuku akan tiba tak lama lagi.

Tiga tahun ini kesehatanku memang kurang baik. Satu-satunya yang kusesali adalah itu membuatku tak bisa lagi mengejar wajahmu, dan menikmati keindahan dan ketulusan. Hal yang dulu selalu kulakukan, memandangmu dari jauh. Dari depan rumah di mana daun-daun nusaindah terserak. Melihatmu berbicara dan tertawa membuatku merasa hidup.

Barangkali memang harus begini ketentuan Allah. Bahwa selamanya aku hanya bisa memilikimu dalam angan, harapan, dan impian. Tidak lebih.

Tapi, perempuan,

Tak pernah kusesali pilihan yang kubuat. Sebab, bisa memiliki harapan untuk bersamamu lebih dari cukup bagiku. Sebab, seperti yang pernah kukatakan, sebelumnya aku tak pernah punya cita-cita. Dan perempuanku memberiku cita-cita itu.

Aku mencintaimu. Teramat sangat, pada batas terdalam cinta yang mungkin dirasakan seseorang. Dan telah pula kubuktikan semampuku.

Delapanbelas tahun meneropong kebahagiaanmu. Melihat anak-anakmu tumbuh besar, memberiku rasa aman. Sebab, kini aku tahu, sekalipun aku tak ada, mereka akan menjadi perisai dan pelindung yang baik bagimu.

Bingkisan ini harus kusampaikan kepadamu sebagai bagian dari harapan indah yang kubangun.

ENTAH tangan siapa yang memulai menyobek bingkisan dengan sampul kertas koran itu. Di dalamnya tampak sebuah kertas kado dengan bunga-bunga kecil warna pink dan biru.

Semua terpana. Dee menunggu persetujuan Andra, Ita, dan Anik sebelum menyobek kertas kado dan terperangah melihat isinya. Di dalamnya terdapat kotak berisi mukena dan sarung merah jambu berenda, satu Al Quran dan sejumlah uang dalam jumlah yang ganjil. Juga sebuah cincin bermata satu dalam wadah hati berwarna biru.

Dee merasa matanya berair. Anik menghapus airmata yang mengalir deras. Sementara, Ita dan Andra tak urung menitikkan butiran kristal serupa.

Di dekat mereka, surat-surat berbeda tahun tergeletak berantakan di lantai. Sebagian hurufnya ada yang pudar dan tak bisa dibaca, sebagian lagi tertimpa airmata baru yang menetes dari keempat gadis yang meratapi kisah cinta yang lara dari lelaki tanpa nama untuk perempuan tanpa nama.

Bingkisan ini harus kusampaikan kepadamu sebagai bagian dari harapan indah yang kubangun. Dulu aku selalu membayangkan memberikannya langsung kepadamu, sekaligus bersimpuh di lutut dan mengucapkan kata-kata lamaran yang layak dikenang dalam sisa hidup. Melamarmu dalam suasana suci, ketika mencintaiku tidak lagi menjadi halangan bagimu.

Delapanbelas tahun mencintaimu dalam diam. Sebentar lagi mungkin habis waktuku. Tapi tak pernah kusesali hari ketika aku melihatmu di teras masjid.

Terimakasih Tuhan atas cinta sekali yang Kau beri.


Diketik ulang oleh Juli Prasetio Utomo, 27 Juni 2005, dengan pembenahan beberapa ejaan dan tanda baca

3 komentar: